Cara Menghitung Bunga Deposito dengan Benar

Cecepkocep.com – Hampir semua lembaga keuangan atau perbankan memiliki produk deposito yang memberikan layanan penyimpanan jangka panjang. Sebagai imbalannya, kita akan mendapatkan suku bunga dengan jumlah yang lebih besar. Lalu bagaimana cara menghitung bunga deposito?

Perlu kamu ketahui bahwa deposito itu berbeda, terutama jika dilihat dari fleksibilitas dalam penarikan dananya. Uang yang kamu simpan di dalam tabungan bisa diambil kapan saja. Sementara deposito memiliki jangka waktu tertentu untuk bisa kamu ambil.

Apa itu Deposito?

Deposito merupakan tabungan yang memiliki jangka waktu atau tenor. Selama dalam masa tenor, kamu tidak bisa mengambil uang yang telah kamu simpan. Jika sampai diambil, kamu harus menanggung resiko penalti.

Secara tidak langsung, deposito ini bisa menjadi alternatif bagi kamu yang selalu tergoda untuk menarik uang tabungan. Sehingga bisa membantumu untuk mengatur keuangan. Deposito ini sangat bagus untuk mengatur kebutuhan untuk keperluan jangka menengah hingga panjang.

Untuk bunga yang akan diberikan oleh pihak lembaga perbankan biasanya akan lebih besar dibandingkan dengan bunga tabungan. Nah, untuk bunganya juga tidak bisa dicairkan begitu saja. Sehingga deposito ini sangat cocok dijadikan untuk investasi seperti halnya saham, reksadana dan obligasi.

Keuntungan yang akan didapatkan dari deposito itu relatif lebih baik karena minim resiko kerugian yang mungkin terjadi. Oleh sebab itu, deposito banyak digunakan sebagai portofolio untuk investasi.

Kebijakan Deposito

Untuk menyimpan uang dalam bentuk deposito biasanya berkisar Rp8 juta hingga Rp10 juta. Tapi itu kembali lagi kepada pihak lembaga keuangan yang menentukan kebijakannya.

Bahkan ada beberapa lembaga keuangan yang menetapkan setoran minimal sebesar Rp1 juta saja. Sehingga sangat cocok untuk kamu yang ingin berinvestasi meskipun dengan uang yang minim.

Untuk tenor yang ditawarkan olleh setiap lembaga perbankan juga berbeda-beda. Ada yang menawarkan tenor mulai dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, hingga 24 bulan. Semakin lama tenornya, bunga yang diberikan akan relatif lebih besar.

Deposito ini sangat cocok untuk kamu yang ingin berinvestasi dengan tingkat kerugian yang minim. Selain itu, untuk keamanannya juga telah dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Jadi kamu tidak perlu khawatir untuk masalah keamanannya.

Tapi ada beberapa persyaratan lain yang harus dipenuhi untuk mendapatkan deposito yang ada di dalam lindungan LPS. Persyaratan yang dimaksud adalah jumlah maksimum dana yang disimpan dalam deposito tidak melebihi batas jaminan yaitu Rp2 miliar.

Selain itu bunga bunga depostio yang disediakan oleh pihak bank juga tidak boleh melebihi suku pinjamannya.

Untuk deposito sendiri diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu deposito berjangka dan sertifikat deposito.

Deposito berjangka adalah dana simpanan yang penarikannya hanya bisa diambil oleh si penyimpan atau nasabah dengan nama yang sama. Sehingga jenis deposito ini tidak bisa dipindahtangankan, diperjualbelikan, dan hanya bisa kamu ambil jika tenornya sudah habis.

Sementara sertifikat deposito adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh pihak bank. Deposito ini bisa dicairkan oleh siapapun yang memiliki sertifikat tersebut. Sehingga jenis deposito yang satu ini bisa diperjualbelikan dan dipindahtangankan.

Baca juga: Perbedaan Reksadana dan Saham Sebelum Investasi

Cara Menghitung Bunga Deposito

Cara menghitung bunga deposito bank Mandiri, BCA, BRI dan bank lainnya sama. Jadi cara perhitungan ini tidak berdasarkan lembaga bank yang akan kamu daftarkan deposito.

Perlu kamu ketahui juga bahwa kamu akan dikenakan PPH sebesar 20% jika dana yang didepositokan lebih dari Rp7,5 juta. Jika kurang, kamu tidak akan mendapatkan PPH sepeserpun. Lalu bagaimana sih cara menghitung bunga deposito yang benar?

Terdapat dua cara yang bisa kamu gunakan untuk menghitung bunga deposito yang akan didapatkan. Cara pertama berdasarkan total yang akan didapatkan  di akhir jatuh tempo. Sementara cara yang kedua yaitu berdasarkan profit yang akan kamu dapatkan setiap bulannya.

Oh iya, sebelumnya kamu juga harus tahu dulu suku bunga yang akan kamu dapatkan dari pihak lembaga bank.

Rumus Pertama

Profit yang akan kamu dapatkan dengan rumus ini yaitu

(Setoran pokok x Suku bunga deposito x tenor (dalam satuan hari))/365 hari.

Sementara untuk pajak yang harus kamu bayarkan adalah adalah sebagai berikut.

Tarif pajak x profit dari bunga deposito

Simulasi perhitungannya seperti ini.

Kamu mendepositkan uang ke bank sebesar Rp10 juta dengan masa tenor 6 bulan. Karena uang yang didepositokan lebih dari Rp7,5 juta, berarti kamu akan terkena pajak sebesar 20%. Sementara untuk bunga yang diberikan oleh pihak bank adalah 6%.

Berarti perhitungannya seperti ini:

= (setoran pokok x suku bunga deposito x tenor) / 365 hari

= (Rp 10.000.000 x 6% x 180 hari) /365 hari

= Rp 108.000.000 / 365

= Rp 295.890

Berarti kamu akan mendapatkan profit atau keuntungan sebesar Rp 295.890.

Sementara pajak yang harus kamu bayarkan adalah sebagai berikut.

= Tarif pajak x Profit dari bunga deposito

= 20% x Rp 295.890

= Rp 59.178

Berarti kamu harus membayar pajak sebesar Rp 59.178 dari profit yang didapatkan dari bunga deposito. Sehingga keuntungan bersih yang akan kamu dapatkan dari deposito adalah

= Rp 295.890 – Rp 59.178

= Rp 236.712

Rumus Kedua

Cara perhitungan bunga deposito yaitu berdasarkan keuntungan yang akan didapatkan setiap bulan. Jadi, rumus ini bisa digunakan untuk mengetahui keuntungan kamu setiap bulannya. Rumusnya adalah sebagai berikut.

(suku bunga deposito x setoran pokok deposito x 30 hari x 80%) / 365 hari.

Pada rumus di atas terdapat presentasi 80% yang merupakan presentasi pendapatan setelah dikurangi pajak yang harus ditanggung. Karena kamu mendepositkan dana sebesar Rp10 juta, berarti kamu akan dikenakan pajak sebesar 20%.

Jadi angka 80% itu merupakan hasil dari pengurangan 100% – 20%.

Lalu berapakah keuntungan yang akan kamu dapatkan? Berikut perhitungannya.

= (suku bunga deposito x setoran pokok deposito x 30 hari x 80%) / 365 hari

= (6% x Rp 10.000.000 x 30 hari x 80%) / 365 hari

= Rp 14.400.000 / 365

= Rp 39.452

Jadi keuntungan yang akan kamu dapatkan setiap bulannya adalah Rp 39.452.

Cara menghitung bunga deposito setelah dipotong pajak juga bisa menggunakan cara di atas. Bagaimana sangat mudah bukan cara perhitungannya?

Sebelum menghitungnya, pastikan kamu tahu terlebih dahulu berapa persentase bunga yang diberikan oleh pihak bank. Karena setiap bank memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Selain itu, kamu juga harus tahu pajak yang akan kamu tanggung, apalagi jika uang yang akan didepositokan lebih dari Rp7,5 juta.

Itulah ulasan kami tentang cara menghitung bunga deposito yang semoga bisa kamu jadikan referensi. Pastikan untuk mendepositokan uang kamu dengan ke lembaga keuangan yang memberikan jaminan keamanannya. Jangan sampai uang yang kamu investasikan ludes oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.

Leave a Comment